Belajar dari Langit untuk Masa Depan: Bapperida Brebes Menimba Inspirasi Pengelolaan Air Hujan di Sekolah Air Hujan Banyu Bening
Sleman | astara-news.com – Pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kemajuan infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan menjaga sumber daya alam agar tetap lestari. Berangkat dari kesadaran tersebut, Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset Daerah (Bapperida) Kabupaten Brebes melakukan kunjungan kerja ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada 30 Juli 2026.
Kunjungan yang dipimpin oleh Kepala Bapperida Kabupaten Brebes, Dra. Tety Yuliana, M.Pd., bertujuan mempelajari secara langsung praktik pemanfaatan air hujan sebagai salah satu solusi dalam menghadapi ancaman krisis air bersih dan penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah yang terus berlangsung.
Dalam sambutannya, Dra. Tety Yuliana menjelaskan bahwa hasil kajian di wilayah Kabupaten Brebes menunjukkan adanya penurunan permukaan tanah di kawasan industri hingga sekitar 7 sentimeter per tahun. Kondisi tersebut terjadi karena tingginya pemanfaatan air tanah yang belum diimbangi dengan upaya pengisian kembali ke dalam tanah.
Menurutnya, persoalan tersebut menjadi tantangan yang harus segera dijawab melalui pendekatan yang inovatif, ilmiah, dan berkelanjutan.
“Di beberapa wilayah, khususnya Kecamatan Larangan, masyarakat mulai merasakan sulitnya memperoleh air bersih, terlebih saat musim kemarau dan fenomena El Niño. Karena itu kami mencari berbagai praktik baik yang dapat menjadi referensi untuk diterapkan di Brebes,” ungkapnya.

Dalam sesi pemaparan, Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, memperkenalkan konsep 5M, yaitu Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri. Konsep tersebut menekankan pentingnya memanfaatkan air hujan sebagai sumber air alternatif sekaligus mengembalikan kelebihan air ke dalam tanah agar keseimbangan siklus air tetap terjaga.
Ia menjelaskan bahwa ketahanan air tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber air, tetapi juga pada perubahan pola pikir masyarakat dalam memanfaatkan setiap tetes air hujan secara bertanggung jawab.
“Air hujan adalah karunia yang datang tanpa diminta. Jika dikelola dengan baik, ia mampu menjadi solusi bagi kebutuhan air bersih sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” jelas Sri Wahyuningsih.
Diskusi yang berlangsung hangat menghasilkan berbagai gagasan mengenai peluang penerapan sistem pemanenan air hujan di Kabupaten Brebes. Salah satunya adalah mendorong pembangunan kawasan permukiman, fasilitas publik, dan kawasan industri agar dilengkapi sistem penampungan air hujan sebagai bagian dari infrastruktur ramah lingkungan.
Selain itu, hasil kajian dan kunjungan ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan daerah, termasuk penguatan regulasi melalui Peraturan Bupati (Perbup) yang mendukung pemanfaatan air hujan sebagai bagian dari strategi ketahanan air daerah.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan peninjauan langsung ke berbagai instalasi di Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Rombongan melihat sistem penampungan air hujan, teknologi pengelolaan air, hingga fasilitas penyediaan air hujan yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara bebas sebagai bentuk pelayanan sosial kepada publik.

Kunjungan ini menjadi contoh bahwa riset, inovasi, dan kolaborasi dapat berjalan beriringan dalam menjawab persoalan lingkungan. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan aksi nyata, lahirlah solusi yang tidak hanya bermanfaat bagi masa kini, tetapi juga menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Sebab, masa depan yang berkelanjutan dimulai dari keberanian untuk menghargai setiap tetes air yang jatuh dari langit.
Kontributor: Mikail Ramadhani