Saat Dakwah Menyapa Alam: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Belajar Ekoteologi dan Etika Lingkungan di Sekolah Air Hujan Banyu Bening
Sleman – Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, dakwah tidak lagi hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga tentang bagaimana manusia merawat alam sebagai amanah Sang Pencipta. Semangat inilah yang menjadi dasar kunjungan 15 dosen Program Studi Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, mengusung tema “Mediatisasi Ekoteologi dalam Konten Dakwah Digital di Instagram: Representasi Etika Lingkungan.” Melalui tema tersebut, para akademisi ingin menggali praktik-praktik baik dalam membangun kesadaran ekologis serta memahami bagaimana pesan-pesan pelestarian lingkungan dapat dikemas menjadi dakwah yang relevan di era digital.
Rombongan dipimpin oleh Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam, Dr. Yopi Kusmiyati, M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Sekolah Air Hujan Banyu Bening dipilih karena telah menghadirkan contoh nyata bagaimana nilai-nilai agama diterjemahkan menjadi aksi menjaga lingkungan.
Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam melahirkan narasi-narasi edukatif yang mampu menggerakkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan melalui pendekatan komunikasi yang kreatif dan berbasis ilmu pengetahuan.
Pada sesi utama, Sri Wahyuningsih, Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening, mengajak peserta memahami konsep ekoteologi melalui perpaduan antara ayat qauliyah (firman Allah dalam Al-Qur’an) dan ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah yang hadir di alam semesta).
Ia menjelaskan bahwa air hujan merupakan salah satu nikmat Tuhan yang sering kali dianggap biasa, padahal memiliki peran sangat penting bagi keberlangsungan seluruh makhluk hidup. Karena itu, memanen, mengelola, dan memanfaatkannya secara bijaksana merupakan bentuk rasa syukur sekaligus tanggung jawab moral manusia.

“Kami ingin melihat secara langsung bagaimana praktik ekoteologi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi dalam membangun konten dakwah digital yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Kunjungan tersebut disambut oleh Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamaluddin, yang berharap sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas lingkungan dapat memperluas penyebaran pesan tentang pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Wahyuningsih juga memperkenalkan konsep 5M, yakni Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri, sebagai pendekatan sederhana yang menghubungkan nilai spiritual, kepedulian lingkungan, dan kemandirian masyarakat dalam menjaga ketahanan air.

Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai pandangan mengenai peran media sosial sebagai sarana dakwah yang mampu mengajak masyarakat mencintai lingkungan. Para peserta sepakat bahwa media digital memiliki kekuatan besar untuk menyebarkan pesan-pesan positif yang mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Melalui kunjungan ini, diharapkan lahir kolaborasi yang semakin erat antara dunia akademik, komunitas, dan masyarakat dalam membangun budaya peduli lingkungan. Sebab, dakwah yang menyentuh kehidupan tidak hanya mengajak manusia berbuat baik kepada sesama, tetapi juga mengajarkan untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama.
“Merawat alam adalah wujud syukur, menjaga air adalah ikhtiar, dan mewariskan lingkungan yang lestari adalah amal yang manfaatnya terus mengalir bagi generasi mendatang.”
Kontributor: Mikail Ramadhani